Jumat, 09 Maret 2012

GERAKAN PEMBAHARU WAYANG ORANG THR SURABAYA


Setelah lebih kurang 40 hari-an tidak menggelar pertunjukannya, tepat pada hari minggu malam tanggal 4 Maret 2012 Wayang Orang THR Surabaya mencoba menawarkan produksi barunya dengan lakon Abimanyu Gugur. Pertunjukan pada malam itu bisa dikata sebagai pertunjukan yang spesial, karena sebelum pertunjukan Wayang dimulai terlebih dulu dipergelarkan musik campursari dari kelompok Sinar Bhaskara. Lebih spesial lagi karena pembawa acara dalam pertunjukan campursari tersebut adalah Cak Pendik yang merupakan pembawa acara campursari di TVRI Jawa Timur yang secara rutin ditayangkan pada hari kamis malam. Dengan adanya pertunjukan campursari ini, gedung yang biasanya dihadiri kurang dari 200 orang, maka pada malam itu tidak kurang dari 500 orang menyaksikan pertunjukan Wayang Orang.
            Pertunjukan wayang Orangnya sendiri tampaknya juga memiliki spirit pengembangan yang cukup signifikan bila dibanding dengan pertunjukan rutin mereka. Pada malam itu Wayang Orang yang menyajikan cerita Perang Barata Yuda itu disutradarai oleh Daryanto, dan musik pengiringnya ditata oleh dosen muda dari Unesa yaitu Joko Winarko atau yang akrab dengan nama Joko Porong. Pertunjukan yang melibatkan kurang lebih 70-an pemain (penari dan pengrawit) itu didukung oleh komunitas seniman wayang THR, komunitas putra-putri Sriwandawa, mahasiswa dan dosen di lingkungan STKW dan Unesa.
            Secara menyeluruh upaya menyajikan pertunjukan relatif cukup menarik. Kreativitas garap baik dari sisi gending/musik, gerak, dan pemanggungannya telah menujukan upaya yang cukup menonjol. Dari sisi gerak yang secara normatif dalam wayang tidak banyak banyak menampilkan ragam gerak, pada malam itu banyak ragam gerak yang dikembangan dalam rangka memenuhi kebutuhan ungkap tema. Bahkan tampak dalam penggarapan gerak tarinya ingin memadukan atau mengkombinasikan ragam-ragam gerak tari jawa timuran dalam pertunjukannya. Komposisi atau pola lantai penari juga menjadi sorotan dalam garapan tersebut. Dalam penggarapan gendingnya, walaupun bentuknya masih terpola dalam bentuk musik wayang, namun penata telah mencoba mengembangkan melodi dan bahkan memasukan alat musik terompet dan jimbe. Bentuk pemanggungan, walaupun masih menggunakan panggung prosesnium, namun tidak lagi menggunakan panggung yang dilatari oleh gambar-gambar layar yang realistik itu. Arena panggung semua ditutup dengan kain hitam dan pada bagian belakang (Up Stage) ditata trap setinggi kurang lebih 30 cm memanjang darin wing bagian kiri hingga wing bagian kanan.
            Menyaksikan pertunjukan Wayang Orang pada malam itu sebagian besar penonton menyatakan kepuasannya, walau masih terdapat kekurangan dalam penyajiannya. Beberapa hal yang menjadi catatan ke depan adalah bagaimana komunitas ini memegang konsistensinya dalam pengembangan Wayang Orang di THR Surabaya. Selain itu perlu adanya persiapan yang matang dalam rangka memenuhi gagasan baru, sehingga secara menyeluruh baik teknis maupun non-teknis komunitas tersebut memiliki kompetensi yang sama dan merata. Lebih jauh lagi harapannya bagaimana komunitas ini mampu membangun kembali eksistesi Wayang Orang dalam kehidupan masyarakat. Selamat berjuang..