Kamis, 29 Agustus 2013

PEMBINAAN SENI TARI UNTUK ANAK DI SEKOLAH

(Makalah ini disampaikan pada Sarasehan yang diadakan dalam rangka Festival Nasional Tari Kreasi Anak-Anak 2013 di Taman Budaya Jawa Timur pada tanggal 28 Juni 2013)

Oleh: Peni Puspito


A.    Pendahuluan
Mencermati perkembangan seni tari kita saat ini, semakin lama terasa semakin kering dan mengalami proses ‘pendangkalan’ makna atau nilai. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa indikasi positif yang mempengaruhi hal ini, adalah mulai hilangnya batas-batas budaya yang ditandai atau sering disebut dengan globalisasi. Dalam posisi seperti ini kadang kita berada pada ambang yang membingungkan. Ingin meninggalkan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang untuk mencari identitas budaya baru yang belum jelas akarnya, dan hasilnya justru kita kehilangan identitas budaya sendiri. Tidak sedikit contoh yang dapat kita saksikan dalam pertunjukan anak-anak generasi penerus kita. Mereka senantiasa memiliki kecenderungan mengadopsi begitu saja kesenian yang tumbuh dan berkembang dari luar lingkungannya, dengan tanpa memberikan sentuhan kreatif baik nilai maupun wujudnya; pada akhirnya seni tari tidak memiliki bobot serta identas yang jelas. Bila seni tari sudah mengalami pertumbuhan semacam ini kemudian pertanyaannya dapatkah seni tari kita memberikan kontribusi terdahap pertumbuhan kebudayaan atau bahkan peradaban manusia
Menangkap fenomena tersebut, seharusnya Lembaga yang berwenang terhadap penyelenggaraan pendidikan tidak boleh menganggap remeh dan bahkan acuh-tak-acuh. Bila ini dibiarkan berkembang terus, maka tak khayal bila pada satu saat nanti generasi penerus kita akan tergilas dengan era yang bernama globalisasi dan mereka akan kehilangan identitas. Untuk itu diperlukan upaya pembinaan kesenian sejak dini melalui jalur Lembaga Pendidikan atau yang disebut dengan Sekolah. Selain untuk menangkal pengaruh globalisasi, pembinaan seni tari di sekolah tentunya sangat relevan dengan konsep pendidikan yang sekarang dikembangkan yakni pendidikan karakter. Seni tari dan karakter adalah dua hal yang sangat berhubungan bagai dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian pembinaan seni tari di sekolah sesungguhnya memiliki fungsi yang sangat strategis dalam upaya pengembangan karakter siswa yang berperan sebagai penerus bangsa.
Bila pembinaan seni tari dianggap penting, maka diperlukan satu konsep yang matang dalam pelaksanaannya. Banyak lembaga apakah pemerintah, swasta, masyarakat yang mencoba menyelenggarakan pembinaan terhadap kesenian dan hasilnya -dianggap gagal tidak-, namun belum dapat dirasa perolehan yang diharapkan. Demikian pula pembinaan seni tari di sekolah, banyak sekolah telah mencoba menyelenggarakan pembinaan seni tari terhadap siswanya, namun hasilnya masih dirasa belum maksimal. Bila banyak siswa sekolah yang berprestasi sebetulnya hal tersebut  bukan merupakan hasil dari pembinaan yang dilakukan oleh sekolah, namun merupakan hasil pembinaan sanggar-sanggar yang diikuti oleh siswa tersebut. Dalam tulisan ini tidak menyajikan konsep ideal untuk pembinaan seni tari di sekolah, namun lebih memberikan umpan untuk dapat didiskusikan lebih jauh pemasalah yang telah digambarkan di atas.

B.     Perlunya Pembinaan Seni Dalam Lingkup Pendidikan Di Sekolah
Tidak semua sekolah di sekitar kita sudah memiliki atau bahkan menjalankan konsep pembinaan seni tari yang ideal untuk para siswanya. Hal ini sangat bergantung pada pemahaman pengambil kebijakan (Kepala Sekolah, Guru, atau pemuka masyarakat dan lingkungan) terhadap kemanfaatan seni tari bagi siswanya. Akibat sistem pendidikan yang memberlakukan Ujian Nasional sebagai standar kelulusan, maka hampir seluruh sekolah mengkonsentrasikan kegiatannya hanya untuk memenuhi target kelulusan siswanya. Sebab bila ada sekolah yang siswanya banyak tidak lulus dalam ujian tersebut, maka kondite pengelola atau bahkan lembaganya beresiko mendapat cemo’ohan dari berbagai pihak termasuk masyarakat sendiri. Hal inilah yang kemudian tidak sedikit sekolah-sekolah melakukan atau bahkan menghalalkan perilaku curang untuk menyikapi persoalan tersebut, dan parahnya seni tari pun dianggap sebagai hal yang tidak punya peran penting dalam upaya membangun kecerdasan anak didiknya.
Bila kita cermati, maka sesungguhnya pendidikan seni tari sangatlah dibutuhkan dalam upaya membentuk perilaku atau karakter siswa yang lebih cerdas dan beradab. Kecerdasan spiritual misalnya, dapat dilakukan melalui kajian-kajian makna serta filosofis dari sebuah produk seni tari; kecerdasan intelektual bisa kita bangun melalui kajian-kajian kesejarahan, pengetahuan, komposisi, dalam sebuah karya seni tari; kecerdasan emosional dapat diberikan pada siswa melalui proses kreatif, apresiasi, kerja produksi, dan sebagainya; adapun kecerdasan kinestetik tentunya dapat dilihat ketika siswa melakukan aktivitas berkesenian.
Selain dapat digunakan untuk meningkatkan berbagai kecerdasan tersebut, pembinaan seni tari di sekolah dapat memberikan andil kepada pembentukan karakter, pelestarian serta pengembangan budaya, menciptakan ruang berekspresi yang pada akhirnya akan memeperkokoh tumbuhkembangnya kualitas kebudayaan kita.

C.    Pembinaan Seni Tari di Sekolah
Bila kita hendak menyelenggarakan kegiatan pembinaan seni tari di sekolah, maka ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:
1.      Jenis Pembinaan
Pada dasarnya kegiatan yang terkait dengan lembaga pendidikan atau yang disebut dengan sekolah biasanya ada dua jenis kegiatan pokok yakni: 1) kegiatan yang terkait langsung dengan kurikulum, dan 2) kegiatan di luar kurikulum atau yang sering disebut dengan ekstrakurikuler. Untuk menyelenggarakan pembinaan seni tari di sekolah sebaiknya disesuaikan dengan karakter tersebut, karena setiap jenis kegiatan memiliki spesifikasi arah dan sasaran yang berbeda.
a.      Intrakurikler
Jenis pembinaan ini adalah jenis pembinaan yang masih lekat terkait dengan pembelajaran dalam kurikulum sekolah. Sifatnya lebih pada pendalaman atau pengkayaan materi yang disampaikan di kelas, misalnya mengajak siswa untuk menyaksikan pertunjukan dengan tujuan memberi materi apresiasi anak terhadap pertunjukan yang dimaksud, kemudian terlibat langsung pada proses kreatif di sebuah sanggar seni tari, berdiskusi tentang sebuah karya seni tari, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dapat diikuti oleh semua siswa tanpa terkecuali, dan pada intinya arah kegiatan ini ditekankan untuk pengembangan ranah kognisi dan afeksi anak.
b.      Ekstrakurikuler
Jenis pembinaan ini adalah jenis pembinaan yang bertujuan untuk mengembangan talenta para siswa di sekolah. Pembinaan jenis ini lebih mengutamakan materi yang tidak atau belum terjangkau dalam kurikulum sekolah. Oleh karenanya kegiatan pembinaan, lebih menekankan pada pengkayaan materi seni tari, ketrampilan teknik, penguasaan ekspresi atau mengungkap, serta kesadaran estetik. Siswa lebih dipersiapkan secara optimal sebagai pelaku seni tari yang kreatif dan berprestasi. Dalam pembinaan jenis ini, tidak harus semua siswa dipaksakan mengikutinya. Pada intinya arah kegiatan ini lebih ditekankan untuk pengembangan ranah psikomotor dan afeksi.

2.      Berbagai Kebutuhan Dalam Pembinaan Seni Tari di Sekolah
Agar pembinaan seni tari di sekolah lebih tepat sasaran dan tepat guna, maka sebaiknya dirancang dengan memperhatikan berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam pembinanan:
a.       Menyediakan infrastruktur terkait dengan karakter pembinaan
Idealnya pembinaan seni tari disekolah diawali dengan menyediakan berbagai kebutuhan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan, misalnya menyediakan infrastruktur seperti gedung atau ruang berlatih, berapresiasi, atau berekprsi, berbagai media yang digunakan dalam kegiatan, serta peralatan elektronik lainya. Hal ini sangat tergantung dari asing-masing karakter lingkungannya.
b.      Memilih materi yang tepat
Memilih materi serta instruktur yang tepat akan mempermudah proses komunikasi serta capaian yang tepat dalam sasaran. Materi yang kurang tepat akan menyebabkan pengaruh terhadap psikologi dan kesulitan menangkap persoalan. Demikian pula bila instruktur kurang paham terhadap dunia anak akan menyebabkan kurang lancarnya proses komunikasi dalam pembinaan.
Membedakan materi antara jenis pembinaan di bidang intrakurikuler dan ekstrakurikuler penting dilakukan agar arah capaian pembinaan dapat diketahui dan dievaluasi
c.       Memilih metode pembinaan
Metode pembinaan sebaiknya juga didesain sedemikian rupa agar proses penyampaian materi dapat berjalan secara efektif, efisien sesuai dengan perkembangan psikologi anak.
d.      Membuat sistem kelas berdasar tingkat kualitas
Sebaiknya pembinaan seni di sekolah dibuat dalam kelas atau kelompok belajar berdasar tingkat kualitas yang setara. Hal ini supaya pertumbuhan atau perkembanganan peserta dalam pembinaan dapat berkembang bersama-sama tanpa ada yang tertinggal.
e.       Memilih materi disesuaikan dengan karakter siswa
Pemilihan materi sebaiknya disesuaikan dengan perkembagan psikologi anak dalam bentuk yang menyenangkan.
f.       Medesain kegiatan dalam pembinaan seni atas dasar kaidah-kaidah manajemen yang baik, misalnya dimulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, kontrol, dan sebagainya

3.      Pola Pembinaan Seni di Sekolah
Tampaknya hal ini agak berlebihan bila dalam pembinaan seni di sekolah harus dibangun dalam atau melalui bentuk visi dan misi. Namun apapun alasannya konsep pembinaan seni di sekolah juga harus bermuatan paling tidak tujuan yang ingin digapai. Masing-masing lingkungan akan menentukan tujuan yang relatif tidak dapat disamakan dengan lingkungan lainnya. Hal ini sangat bergantung pada tingkat problematiknya sendiri-sendiri, dan hal ini juga akan melahirkan bentuk pembinaannya sendiri-sendiri.
Setelah menentukan tujuan, maka perlu kita tentukan konsep untuk mencapai tujuan yang hendak diraih. Konsep tentang pola pelaksanaan terpadu untuk membangun keberhasilan pembinaan sangat diperlukan keberadaanya, misal: pola pembinaan yang strategis, Sinergis, terarah, terkendali, dan terukur. Bila pola terpadu semacam ini diakukan secara seirus tampaknya akan semakin memberikan peluang terhadap keberhasilan pembinaan seni di sekolah. Pola strategis akan memberikan dampak terhadap kesadaran tepat sasaran dan tetap guna sehingga efektivitas dan efisiensi akan tercipta. Pola sinergis adalah pola yang melibatkan semua komponen terkait dalam pembinaan seni disekolah, sehingga dapat meberikan kekuatan atas kelemahan-kelemahan yang terjadi. Pola yang terarah, berarti seluruh kegiatan dilakukan dengan konsep yang jelas berkait dengan arah tujuan yang hendak dicapai. Pola terkendali, adalah pola yang terkait dengan pengendalian terhadap kelemahan atau hal-hal yang jauh dari harapan pembinaan; sedangkan pola terukur, adalah pola penentuan kegiatan yang dapat diukur melalui capaian-capaian dari sebuah program.

D.    Konsekuensi Logis
Pembinaan seni bukanlah pembinaan yang sifatnya instan, yang secara langsung dapat dinikamati hasilnya. Kegiatan ini lebih merupakan kegiatan yang bernuansa  investasi jangka panjang. Tidak sedikit orang atau bahkan kepala sekolah yang paham tentang hal ini, seolah mereka selalu segera ingin tahu atau bahkan menuntut hasil dari pembinaan seni yang dilakukan. Bagaimana mungkin baru empat tahun memberi kesempatan kegiatan pembinaan sudah menuntut hasil yang dapat dirasakan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan orang enggan untuk melakukan pembinaan. Mereka beranggapan sudah mengeluarkan dana banyak, namun tanpa ada hasil yang nampak.
Sisi lain yang menjadi konsekuensi logis bila kita akan mengadakan kegiatan pembinaan adalah masalah finansial. Selain itu aspek material lain yang terkait dengan sistem atau pola pembinaan juga menjadi beban bagi penyelenggaraanya, misalnya sarana prasarana, pembina yang potensial, materi yang relevan, dan sebagainya. Banyak pula sekolah yang berkenhedak untuk menyelenggarakan pembinaan seni tari di sekolah namun terkendali dengan keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki seperti hal tes ebut.
Sikap, kepedulian, atau suporting merupakan sisi lain yang juga menjadi konsekuensi logis dalam menyelenggarakan pembinaan seni tari di sekolah. Tentunya dibutuhkan pembina-pembina yang memiliki dedikasi serta loyalitas tinggi. Sikap peduli atau suporting ini harus dimiliki oleh semua kalangan atau unsur yang merupakan elemen terkait dari sekolah tersebut. Bila semua elemen masyarakat memiliki dukungan dan pandangan yang sama, maka niscaya bahwa generasi penerus kita akan kehilangan identitas budaya sendiri.

E.     Penutup
Akhirnya pembinaan seni tari di sekolah perlu dilakukan dalam rangka turut membangun berbagai kecerdasan para siswa yang berkarakter. Selain itu pembinaan seni tari diperlukan juga untuk membangun identitas siswa sebagai generasi penerus bangsa yang berkarakter. Langkah-langkah strategis, sinergis, terarah, terkendali, dan terukur adalah pola pembinaan yang akan membantu keberhasilan optimal dalam pembinaan  seni tari di sekolah. Walaupun demikian ada berbagai konsekuensi logis yang harus kita tanggung dalam melaksanakan pembinaan seni tari di sekolah.
Demikian tulisan yang sangat sederhana ini semoga dapat memancing tanggapan untuk didiskusikan. Terimakasih