Minggu, 30 September 2012

MEMBANGUN EKSPRESI LEWAT KOREOGRAFI


I.       Pendahuluan

Judul di atas dipilih atas permintaan panitia yang disampaikan melalui penggambaran fenomena yang terjadi dalam pertumbuhan atau perkembangan koreografi di Kab. Nganjuk ini. Untuk membahas persoalan tersebut dibutuhkan waktu yang relatif panjang untuk memahami seluruh kontens atau isi permasalahannya, dan karena persoalan koreografi ini persoalan praktis maka akan lebih menguntungkan bila disertai contoh-contoh laku yang dimaksud dalam bahasannya. Karena waktu yang disediakan sangat terbatas, maka ibarat tak ada gading rotan pun jadi artinya mari kita manfaatkan dialog ini semaksimal mungkin untuk memahami persoalan-persoalan yang kita bicarakan.
Fenomena perkembangan koreografi kita terutama di Jawa Timur mempunyai persoalan yang sangat beragam. Bila dipilahkan, persoalan tersebut berkisar pada: pertama, “kualitas” peraga dan penata; kedua, proses kekaryaan; dan ketiga, “kualitas” pengamat atau penonton yang akan mempengaruhi kualitas apresiasi atau penghargaan.
Pada “kualitas” peraga dan penata ini sering terlihat relatif kurangnya jam terbang yang dimiliki oleh keduanya.; namun demikian kadang terjadi pula penatanya sudah memiliki kualitas yang bagus tapi tidak didukung oleh peraga yang handal atau sebaliknya. Selain itu sering pula ditemui penata belum punya kesadaran untuk menghargai karyanya sendiri. Pada koreografi-koregrafi baru tampak memaksakan penari yang relatif belum memiliki jam terbang cukup, atau kalau perlu penari ‘dikarbit’ sehingga dalam koreografi tersebut tidak muncul roh yang kuat.
Kelemahan pada proses koreografi, biasanya terdapat pada kurangnya kesadaran dalam mengegola aktivitas proses kreativ, gagasan, waktu, materi, dan sebagainya. Untuk menutupi kekurang-percayaan-dirinya, sering para penata mengutarakan keluhan atas kurangnya waktu, sarana atau materi yang tersedia. Kekurangan-kekurangan (kondisi) semacam ini kadang memang sering terjadi pada karya-karya yang dipesan, namun bila kita mampu mengelola secara efektif dan efisien akan dapat hasil yang bisa dibanggakan. Masih banyak koreografer yang dalam prosesnya menunggu pesanan (melahirkan karya-karya pesanan), sehingga kedalaman kreativitas karyanya belum maksimal karena kurang melakukan kegiatan eksploratif.
Pengamat dan penonton merupakan elemen pertunjukan yang tidak dapat ditinggalkan. Di beberapa daerah telah terjadi kurangnya minat masyarakat yang berkehendak untuk membangun system penghargaan atau apresiasi yang baik terhadap perkembangan koreografi kita. Hal ini diantaranya disebabkan adanya perkembangan system nilai dan kepentingan dalam masyarakat. Idealisme seniman kadang juga sebagai penyebab kurang pedulinya masyarakat terhadap perkembangan koreografi. Selain itu belum lahir kritikus tari yang mampu menghantarkan  masyarakat untuk mengapresiasi karya-karya tari yang ada.
           

II.    Seniman Sebagai Koreografer

Dua kata ini walaupun mempunyai persamaan makna, namun terdapat pengertian yang beda. Seniman secara umum digunakan untuk menyebut semua pekerja seni yang secara terus menerus mampu melahirkan karya-karya seni, sedangkan koreografer hanya tertuju pada seorang yang melahirkan karya tari.
Tidak perlu kita masalahkan pengertian di atas ini, yang penting  bagaimanakah seorang koreografer ini mampu menciptakan karyanya. Yang jelas sebagai seniman, seorang koreografer berkehendak untuk terjun ke dunia seni, biasanya tidak semata mencari keuntungan secara material, namun lebih mencari pengalaman-pengalaman kreatif dan estetis yang dapat menjadikan dirinya sebagai manusia secara individu yang terintegrasi dengan lingkungannya.
Dalam menciptakan karyanya, koreografer selalu berhadapan dengan benda hidup (manusia) sebagai media ekspresinya, oleh karenanya dituntut untuk dapat berkomunikasi secara baik dengan mediumnya (peraga). Syarat lain yang ideal untuk menjadi seorang koreografer handal diantaranya adalah jujur, terbuka, kritis, kreatif, berwawasan luas, dan mampu mengembangkan daya imajinasinya.
Selain itu, untuk melahirkan karya yang bagus, sebaiknya seorang koreografer selalu memiliki kepekaan terhadap potensi internal atau individu serta potensi ekternal. Hal ini dimaksudkan agar kualitas potensi tersebut dapat diolah secara optimal dan akan menghasilkan karya yang maksimal. Potensi internal atau individual merupakan potensi yang dimiliki dan terbangun atas segala pengalaman hidupnya. Ini sifatnya sangat unik, dan masing-masing individu memiliki potensi yang sangat berbeda dan khas antara satu dengan lainnya. Adapun potensi eksternal adalah potensi dari luar dirinya yang merangsang gagasan untuk melakukan proses kreatif atau menciptakan sebuah karya, bentuknya bisa beraneka ragam.
Dalam perkembangnya, dunia penataan tari kita mengalami pertumbuhan yang sangat pesat setelah lebih kurang tahun 70-an. Hal ini tidak bisa terlepas dari peran  Bagong K dan Wisnu Wardana yang pada waktu itu baru pulang dari Amerika setelah belajar tari di sana. Lambat laun koreografi yang semua merupakan  ekspresi komunal kemudian berkembang sebagai ekspresi individual. Sampai saat ini hasilnya dapat kita saksikan berbagai hasil karya-karya koreografi yang telah diciptakan oleh seseorang untuk mewujudkan ekspresi individunya dalam menangkap berbagai persoalan yang ada.
Untuk membina pertumbuhan serta mewadahi  karya-karya koreografi ini berbagai ivent telah dibangun baik oleh pemerintah, swasta, maupun komunitas seni. Dalam penyelenggaraannya, ivent-ivent tersebut mempunyai tujuan yang beragam tertuang dalam tema kegiatan, dan bentuknya bisa festival, lomba, dan sebagainya. Kontroversi yang sampai saat ini berkembang dalam kegiatan ini, ketika ivent tersebut memberikan penghargaan terhadap karya-karya tari (peserta) yang diamati oleh tim pengamat dan hasilnya dianggap kurang memuaskan peserta. Langkah untuk mempersempit kesenjangan semacam ini sebaiknya panitia penyelenggara ivent menyediakan tim pengamat yang mempunyai kualifikasi kualitas sepadan dengan kegiatan; dan untuk peserta atau koreografer yang belum masuk dalam nominasi memiliki sikap yang arif dan bijak.

III. Elemen Estetik Tari

Estetika bila dipahami sebagai filsafat seni, maka persoalannya menjadi sangat luas dan rumit untuk dibicarakan. Hal ini akan menyakut tentang pandangan hidup manusia baik secara individu maupun kelompok. Dalam waktu yang singkat ini saya tidak ingin bicara panjang tentang kajian filsafat seni, namun hanya pada sisi atau aspek koreografis saja.
Bila ditinjau secara umum ada 3 elemen estetik yang sangat doinan dalam koreografi. Ketiga elemen ini tidak dapat hadir dalam satu-kesatuan yang terpisah antara satu dan lainnya, yaitu Tenaga , Ruang, dan Waktu. Aspek tenaga, merupakan kualitas estetis gerak tari ditentukan oleh mengalir dan terkontrolnya kekuatan; sedangkan ruang, merupakan kualitas yang dapat hadir dari seorang koreografer dalam membatasi atau mengontrol ruang dengan cara yang khas; dan waktu, yang secara spesifik merupakan perwujudan ritme dalam sebuah koreografi mempunyai peran yang sangat kuat dalam mengorganisir elemen lainnya.
Selain menyangkut ke-3 elemen estetik seperti yang disebut di atas, dalam memproses sebuah karyanya seorang koreografer tidak dapat pula melepaskan kesadarannya terhadap pesoalan yang sangat melekat dengan karya itu sendiri, yakni: isi, teknik, dan bentuk. Isi adalah segala macam motivasi atau tema yang menjadi sumber garap dari sebuah karya. Teknik, merupakan cara-cara yang dituntut atau diperlukan dalam laku untuk membangun hadirnya bentuk yang ekspresif sesuai dengan keinginan seorang koreografer; Bentuk, adalah organisasi dari seluruh kekuatan sebagai hasil dari struktur internal dari tari. Ciri khas dari bentuk ini biasanya berwujud kesatuan, variasi kontinuitas atau kesinambungan, dan klimaks atau puncak dalam membangun awal sampai penyelesaian.
Hal lain yang menyangkut tentang sebuah proses koreografi adalah tindak untuk melakukan proses kreatif. Di sini seorang koreografer benar-benar dituntut mampu mengorganisir seluruh aktivitas kreatif dari menyangkut persoalan teknis hingga non-teknis, dari mengelola bahan sampai membangun imajinasi, dan sebagainya. Oleh karena itu alangkah baiknya kerja kreatif semacam ini seorang koreografer tidak lagi dibebani hal-hal yang di luar kebutuhan artistic.

IV. Dasar-dasar Komposisi

Untuk membangun kesadaran terhadap kegiatan penyususnan koreografi ini, ada beberapahal yang perlu diketahui, diantaranya adalah:
1.      Membangun isi sebagai landasan isi atau tema garapan.
2.      Desain Atas adalah suatu desain yang terbangun dalam ruang diatas lantai, dan tampak tergambar pada back drop.
3.      Desain Lantai adalah semua desain yang terlitas di lantai pentas atau sering pula disebut dengan pola lantai, menggambarkan letak serta garis  perpindahan seluruh penari di atas panggung.
4.      Desain Dramatik adalah sebuah desain yang terbangun atas rangkaian rangkaian alur dramatik, mulai dari awal pertunjukan, perkembangan sampai menuju pada klimaks atau bahkan penyelesaian akhir.
5.      Desain Musik yakni pola ritmis yang terbangun atas hadirnya musik sebagai pengiring ataupun patner gerak dalam tari, bisa dihadirkan lewat bentuk-bentuk yang sejajar maupun kontras.
6.      Dinamika adalah sustu cabang mekanis yang dapat menghadirkan kesan hidup, bisa ditempuh dengan menghadirkan variasi terhadap kualitas gerak, ataupun pola-pola ritmis.
7.      Tema adalah segala sesuatu yang dapat membangun lahirnya gerak atau tarian, bisa dikata pula berkaitan dengan isi yang terkandung dalam tarian.
8.      Desain Kelompok, yaitu suatu pola penyusunan koreografi kelompok (yang ditarikan lebih dari 3 orang) dengan pertimbangan kesatuan, keseimbangan, terpecah, selang-seling, dan bergantian.
9.      Semua aspek yang dapat mendukung hadirnya keindahan dalam pertunjukan tari, missal: penari, tata lampu, setting, porperti, sampai pada kesadaran management produksinya.

V.    Memproses Karya

Untuk menciptakan sebuah karya tari biasanya masing-masing penata memiliki ciri unik untuk melakukan proses, sehingga antara satu penata dan lainnya belum tentu memiliki kesamaan. Namun-demikian bila dilihat secara umum kita bisa pilahkan kegiatan proses ini dalam beberapa tahap, misalnya: tahap penyusunan konsep, kerja kreatif, dan yang terahkir adalah penyajian.
Tahap awal yang dilakukan oleh seorang koregografer biasanya menyusun konsep. Kesadaran untuk menyusun konsep ini biasanya dimuali dari rangsang awal sampai menentukan tipe dan bentuk penyajian. Rangsang awal yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dapat memberikan daya atau interesting seseorang untuk membuat karya, biasanya bisa dari rangsang audio, visual, kinestetik, raba, atau yang paling kuat adalah gagasan. Setelah itu menentukan tipe tarian, apakah komedi, murni, studi, dramatik, dramatari, dan sebagainya. Akhir dari tahap ini biasanya juga menentukan apakah tarian yang akan diciptakan itu penyajiannya lebih cenderung simbolik, representatif, atau campuran. Sebaiknya konsep ini dituangkan dalam bentuk tulisan sehingga dapat dijadikan landasan dalam proses kreatifnya.
Kerja kreatif adalah tahap lanjut dari sebuah proses penciptaan tari setelah membuat konsep. Tahap ini biasanya dicirii dengan kegiatan-kegiatan: eksplorasi, improvisasi, evaluasi, dan penyusunan. Ekplorasi adalah sebuah kegiatan berpikir, berimajinasi, merasakan, dan meresponsikan segala sesuatu yang telah terkonsep sebelumnya. Improvisasi adalah kegiatan yang lebih bebas dari eksplorasi dan dicirii oleh kegiatan spontanitas. Evaluasi adalah kegiatan untuk meninjau mengkaji ulang kegiatan yang dilakukan atau bahkan sampai pada evaluasi motif gerak hingga seluruh komposisi yang telah tertata. Adapun punyusunan adalah kegiatan untuk merangkai seluruh aspek komposisi yang telah dihasilkan dari kegiatan eksplorasi dan improvisasi. Kegiatan pada tahap ini bisa dilakukan di dalam atau di luar studio, biasanya disesuai dengan keinginan koreografer dan karakteristik kegiatannya.
Tahap paling penting dari seluruh rangkaian proses kreatif ini adalah kegiatan penyajian karya. Pada tahap ini seorang koreografer seolah tidak lagi memiliki kewenangan apapun terhadap tarian yang telah diciptakannya. Penentu dari keberhasilan dalam komunikasi seni ini terletak pada penari dan pendukung lainnya. Oleh karenanya menciptakan suasana “keseriusan” yang optimal akan membantu terbangunnya komunikasi seperti yang diinginkan.

VI. Penutup

Untuk mengakhir pembicaraan ini perlu saya garis bawahi, idealnya untuk menjadi seorang koreografer handal diantaranya adalah jujur, terbuka, kritis, kreatif, berwawasan luas, dan mampu mengembangkan daya imajinasinya. Selanjutnya untuk melahirkan karya yang bagus, sebaiknya seorang koreografer selalu memiliki orientasi terhadap kepekaan potensi internal atau individu serta potensi ekternal. Mengenal element estetika, memahami dasar-dasar penataan tari, serta mampu mengelola proses kreatif dengan baik.
Selanjutnya membangun ekspresi dalam koreografi bukan diartikan sekedar menampilkan wajah atau mimik seorang penari di atas pentas atau panggung, lebih jauh adalah membangun gerak serta seluruh elementnya secara optimal agar koreografi yang kita ciptakan dapat berbicara dan berkomunikasi dengan penonton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.